JS EDUCATION SURABAYA
WIB

JS EDUCATION

Penyebaran Islam di Pulau Jawa tidak terjadi secara instan.

Prosesnya berlangsung bertahap melalui dakwah yang penuh hikmah, pendekatan budaya, serta keteladanan para ulama yang dikenal sebagai Wali Songo. 

Berkat peran mereka, ajaran Islam dapat diterima masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal yang sudah berkembang saat itu.

Para tokoh ini mendapat gelar "Sunan" atau "Susuhunan", sebutan kehormatan bagi sosok yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat. 

Hingga kini, nama-na ma Wali Songo masih dikenang sebagai pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa.

Apa Arti Wali Songo?

Secara bahasa, “wali” berasal dari bahasa Arab yang berarti pelindung, penolong, atau orang yang dekat dengan Allah SWT.

Sementara itu, “songo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan.

Dengan demikian, Wali Songo adalah sebutan bagi sembilan ulama yang berperan besar dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa, terutama pada abad ke-15 hingga ke-16.

Bukan hanya berdakwah, mereka juga berkontribusi dalam pendidikan, pemerintahan, seni, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Urutan 9 Wali Songo, Nama Asli, dan Metode Dakwahnya

1. Sunan Gresik

Nama asli: Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Makdum Ibrahim As-Samarkandi.

Sunan Gresik dikenal sebagai wali yang paling senior dan sering disebut sebagai pelopor dakwah Islam di Pulau Jawa. 

Mengenai asal-usulnya, terdapat beberapa pendapat, mulai dari Samarkand (Asia Tengah), Persia, hingga kawasan Arab.

Beliau memusatkan dakwah di wilayah Gresik dan wafat pada tahun 1419 M. Makamnya berada di Desa Gapura, Gresik.

Sunan Gresik mengajarkan Islam melalui pendekatan yang lembut. 

Selain berdakwah, beliau aktif membantu masyarakat dalam bidang pertanian, perdagangan, dan sosial sehingga kehadirannya diterima dengan baik tanpa menimbulkan konflik dengan budaya setempat.

2. Sunan Ampel

Nama asli: Raden Rahmat atau Sayyid Ali Rahmatullah.

Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan Islam di Jawa Timur. Beliau mendirikan pesantren di Ampel Denta, Surabaya, yang kemudian menjadi pusat pendidikan Islam pada masanya.

Sunan Ampel dikenal mengutamakan pendidikan dan pembinaan akhlak. 

Dalam beberapa riwayat, beliau juga membagikan kipas kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus sarana memperkenalkan Islam.

Beliau mengajarkan dua kalimat syahadat sebagai pintu masuk ke dalam agama Islam.

Berikut adalah bacaan dua kaliamt syahadat yang tentu saja sudah diketahui oleh umat Muslim secara luas:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ 

Latin: Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah.

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

3. Sunan Bonang

Nama asli: Maulana Makdum Ibrahim.

Sunan Bonang merupakan putra Sunan Ampel yang kemudian melanjutkan dakwah di wilayah Tuban setelah menimba ilmu di Pasai.

Beliau sangat dikenal karena memanfaatkan kesenian sebagai media dakwah.

Gamelan, wayang, dan tembang menjadi sarana untuk menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang mudah diterima masyarakat. 

Pendekatan budaya inilah yang membuat dakwahnya sangat efektif.

4. Sunan Drajat

Nama asli: Raden Qasim atau Raden Syarifuddin.

Sunan Drajat merupakan adik Sunan Bonang dan memusatkan dakwahnya di wilayah Paciran, Lamongan.

Dakwah Sunan Drajat sangat menonjol dalam bidang sosial. Beliau aktif membantu fakir miskin, anak yatim, serta mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama. 

Selain itu, beliau juga menyampaikan nilai-nilai Islam melalui tembang dan kesenian tradisional.

5. Sunan Kudus

Nama asli: Ja'far Shadiq atau Raden Undung.

Selain menjadi ulama, Sunan Kudus juga dikenal sebagai tokoh pemerintahan di Kesultanan Demak. Beliau memiliki keahlian dalam ilmu fikih, hadis, tauhid, hingga mantiq.

Sunan Kudus terkenal dengan pendekatan yang menghargai budaya masyarakat setempat.

Salah satu contohnya adalah pembangunan Masjid Menara Kudus yang memadukan unsur arsitektur Islam dan Hindu-Buddha.

Beliau juga menggunakan kesenian seperti Gending Maskumambang dan Mijil sebagai media dakwah.

6. Sunan Giri

Nama asli: Raden Paku atau Muhammad Ainul Yaqin.

Sunan Giri merupakan putra Syekh Maulana Ishaq dan memusatkan dakwah di Bukit Giri, Gresik.

Beliau sangat fokus pada pendidikan. Selain mendirikan pesantren, Sunan Giri juga menciptakan berbagai permainan dan lagu anak-anak yang sarat nilai keislaman, seperti Cublak-Cublak Suweng, Lir-Ilir, Pucung, dan Asmarandana.

7. Sunan Kalijaga

Nama asli: Raden Mas Said.

Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang paling populer. Berasal dari keluarga bangsawan Tuban, beliau menyebarkan Islam di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Beliau memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana dakwah, terutama melalui wayang kulit, tembang, seni ukir, hingga tradisi masyarakat Jawa.

Beberapa karya yang sering dikaitkan dengan beliau antara lain Lir-Ilir, Sluku-Sluku Bathok, serta lakon wayang Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci. 

Nilai dakwahnya menekankan toleransi, kesederhanaan, dan akhlak mulia.

8. Sunan Muria

Nama asli: Raden Umar Sa'id.

Sunan Muria merupakan putra Sunan Kalijaga. Beliau lebih banyak berdakwah di daerah pedesaan dan pegunungan sekitar Kudus.

Seperti ayahnya, Sunan Muria memanfaatkan seni budaya sebagai media dakwah. 

Beliau sering mengadakan pertunjukan wayang dengan cerita hasil modifikasinya sendiri agar lebih mudah dipahami masyarakat.

Pendekatan ini membuat dakwahnya diterima oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat desa.

9. Sunan Gunung Jati

Nama asli: Syarif Hidayatullah atau Syarif Al-Kamil.

Sunan Gunung Jati dikenal sebagai penyebar Islam di wilayah Jawa Barat, terutama Cirebon, Banten, dan Sunda Kelapa. Beliau juga berperan penting dalam berdirinya Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

Beliau menggunakan pertunjukan Gamelan Sekaten atau Gamelan Syahadatan sebagai media dakwahnya.

Masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan tersebut cukup mengucapkan dua kalimat syahadat, tanpa dipungut biaya.

Pendekatan budaya ini terbukti efektif dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jawa Barat.